Bupati Kaimana siap dorong Perda Sasi Pala tapi dengan catatan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Bupati Kabupaten Kaimana, Fredy Thie menyatakan dukungannya untuk mendorong lahirnya Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang Sasi Pala, hanya saja dirinya masih ragu dengan komitmen dan kesungguhan dari para pekebun Pala di Kabupaten Kaimana.

Pernyataan ini disampaikan Bupati Fredy Thie ketika menerima sejumlah wartawan media nasional di ruang kerjanya, Selasa(15/3/2022).

Bupati Kabupaten Kaimana, Fredy Thie

“Kalau itu aspirasi rakyat, saya sebagai Bupati dan atas nama pemerintah daerah pasti dukung. Tapi Kalau kita sudah sepakat, komitmen ini harus jalan. Pertanyaannya sekarang, apakah perlu pemerintah keluarkan regulasi? ,”tanya Bupati

Model konservasi lokal untuk pala ini merupakan sesuatu yang baru, karena selama ini orang lebih familiar dengan sasi laut. Hanya saja menurut Bupati Fredy, masyarakat harus punya komitmen, agar memanen pala itu ketika sudah benar-benar matang.

“Saya pernah tanya kepada Kepala Kampung Manggera, kalau tidak komitmen dengan sasi pala, sanksinya apa? Harus ada sanksi supaya semua masyarakat segan. Jangan cuma pencitraan. Jangan jadi bahan jualan, setelah itu kosong atau tidak dijalankan,” ujarnya.

Bupati mengakui, Pala merupakan komoditi yang cocok di Kaimana khususnya uuntuk masyarakat Arguni dan Buruwai. Iklim Kaimana sama dan Fakfak cocok untuk komoditi pala.

“Saya dulu pedagang pala. Persoalan yang kita hadapi di Kaimana adalah kualitas paska panen. Masyarakat buruh-buruh panen, padahal belum waktunya. Pala yang benar-benar matang itu sudah hitam. Sehingga kita jual di surabaya, pembeli tanya ini pala dari mana. Kalau bilang dari Fakfak itu harganya lebih tinggi, kalau Kaimana harganya rendah, karena dari sisi kualitas, Fakfak lebih bagus,” tandas Bupati pertama di Tanah Papua yang bukan Orang Asli Papua.

Lanjutnya, Pala kering dan pala belum kering itu bisa kelihatan, tidak perlu tumpah lagi, pegang karungnya saja sudah bisa tahu. Tahunya dari mana? Pegang karung kalau karung panas, pala belum kering betul, kalau karung tidak panas, pasti palanya sudah kering.

Fredy Thie kemudian mengenang program sejuta Pala dari Bupati Pertama Kabupaten Kaimana, Hasan Achmad Aituarauw, Tahun 2003. “Program ini sangat baik dan berpihak kepada masyarakat. Kalau program itu jalan baik, sekarang ini kita bisa lihat masyarakat sejahtera. Tapi karena pengawasan yang kurang, maka hasilnya tidak  maksimal,” jelasnya.

Bupati Kaimana ini bahkan menantang para Kepala Kampung untuk mengalokasikan dana kampung Rp 5 Juta untuk bibit pala. “Jangan berpikir infrastruktur,tapi bagaimana bagaimana masyarakat punya perut. Tidak perlu uang banyak-banyak. Kalau dana kampung kita alokasikan 5 juta untuk bibit pala, itu akan sangat membantu. Bagaimana hitungannya? Harga pala 1 kilo kering itu Rp  40 ribu. Dana Rp 5 juta itu dibagi harga Rp 40 Ribu tadi,  artinya sudah dapat 125 kg pala kering. Kalau satu kilogram isinya 50 biji, berarti 50 kali 125 sama dengan 6250 biji. Kalau satu kampung hanya 100 kepala keluarga, maka 6250 biji bagi 100 kepala keluarga, maka satu kepala keluarga bisa dapat 62 bibit pala,” jelas Bupati Fredy Thie.

Sesungguhnya, sambung Bupati Fredy, Pala Kaimana lebih banyak dari Pala Fakfak. Sehingga pala ini akan jadi perhatian Pemerintah Daerah Kaimana. “Bukan saja lewat APBD, tapi lewat dana kampung juga masyarakat harus berpikir. Mudah-mudahan dengan fasilitasi Econusa dan ada komitmen baik dari masyarakat, kualitas pala Kaimana seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih baik,” harap Bupati Kabupaten Kaimana.*)