Cabut Izin Sawit Tancapkan School of Eco Involvement (SEI) di Sorong Selatan ( Bagian-1)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kabupaten Sorong Selatan, Yohan Hendrik Kokulele, ketika membuka kegiatan Sekolah Transformasi Sosial (STS) di Kampung Mogatemin Distrik Kais Darat, Sabtu(26/3/2022).

Sorong Selatan menjadi salah satu yang telah mengimplemetasikan Rencana Aksi melalui pencabutan izin terhadap empat perusahaan perkebunan sawit yaitu PT. Persada Utama Agromulia (PUA), PT. Anugerah Sakti Internusa (ASI), PT. Internusa Jaya Sejahtera (IJS) dan PT. Varia Mitra Andalan (VMA). Pencabutan izin ini disambut positif oleh sebagian besar Masyarakat Hukum Adat yang tersebar di berbagai wilayah yang secara administrasi kampungnya berbatasan atau overlaping dengan lokasi pencabutan izin perusahaan sawit. 

Dalam implementasinya, pencabutan izin perusahaan perkebunan sawit harus diikuti dengan penguatan kapasitas masyarakat adat untuk pengelolaan sumber daya alamnya untuk kemandirian kampung. Penguatan kapasitas ini mutlak diperlukan untuk memastikan lahan tidak lagi dialihfungsikan namun dikelola semaksimal mungkin oleh masyarakat lokal.

Salah satu program untuk membangun ketangguhan kampung yang di inisiasi Econusa adalah program School of Eco Involvement (SEI). Program SEI ini merupakan rangkaian kegiatan yang melibatkan para pemangku kepentingan di kampung. Dua kegiatan utama dalam program ini adalah Workshop Kepala Kampung (WKK) dan Sekolah Transformasi Sosial (STS). Pelaksanaan program SEI di Sorsel telah dimulai dengan kegiatan WKK yang dilaksanakan pada tanggal 1-8 November 2021 lalu dengan melibatkan 12 kampung yang tersebar di 4 Distrik di lingkup Kabupaten Sorong Selatan, yaitu Distrik Konda, Seremuk, Sawiat, Kais Darat.

Paska Workshop Kepala Kampung (WKK), dilanjutkan dengan kegiatan Sekolah Transformasi Sosial (STS) yang menindaklanjuti RTL yang telah dibuat dalam kegiatan WKK. Workshop kepala kampung yang dilaksanakan menghasilkan output berupa Rencana Tindak Lanjut (RTL), yakni kegiatan Sekolah Sagu oleh 6 Kampung, antara lain Kampung Mogatemin, Onimsefa, Konda, Wamargege, Nakna, Bariat. Sementara di 6 kampung lainnya dengan rencana kegiatan Sekolah Budidaya Pertanian yaitu Kampung Manelek, Tofot, Woloin, Haha, Sasnek dan Wendi. Seiring berjalannya kegiatan-kegiatan lapangan, beberapa kampung yang telah dilakukan pemetaan oleh tim PSDA menjadi lokasi potensial yang perlu diikut sertakan dalam memperkuat pembangunan sumber daya alam di kampung, yaitu kampung Tapiri dan Wersar di Distrik Teminabuan. 

Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan oleh tim Econusa, Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang telah dibuat dalam pelaksanaan Workshop Kepala Kampung (WKK) mengalami perubahan menjadi kegiatan lain yang menurut masyarakat dapat dijalankan dan disesuaikan dengan kondisi sumber daya alam yang ada di kampung tersebut sehingga input yang didapatkan bisa benar-benar dimanfaatkan pasca pelaksanaan kegiatan.

Untuk memastikan sumber daya alam berupa komoditi unggulan di masing-masing kampung dapat dikelola dengan baik untuk ketahanan masyarakat, pelaksanaan Sekolah Transformasi Sosial (STS) menjadi rangkaian tak terpisahkan dari Sekolah Eco Involvement untuk mempertajam rencana kerja yang telah disusun oleh masyarakat dengan tujuan membangun ketahanan warga terhadap pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Sekolah Transformasi Sosial (STS) ini bertujuan untuk membangun ketahanan masyarakat di 14 kampung terpilih yang telah mengikuti Workshop Kepala Kampung dan kampung potensial lainnya untuk mengelola dan memanfaatkan sumber-sumber penghidupan yang ada di kampung.

Dan Kampung Mogatemin di Distrik Kais Darat, dipilih sebagai lokasi pelaksanaan STS ke-6. Proses pembelajaran dimulai pada Sabtu (26/3/2022) dan berakhir pada 1 April 2022. Setelah itu, akan dilanjutkan dengan Praktek Kerja Lapang (PKL) selama 3 bulan di kampung masing-masing para peserta.

“Hari ini Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan memberikan apresiasi yang tinggi kepada EcoNusa, karena menjangkau daerah yang jauh dari jangkauan pemerintah daerah melalui Sekolah Transformasi Sosial,” ujar Bupati Kabupaten Sorong Selatan, Samsudin Anggiluli, melalui Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Yohan Hendrik Kokulele, ketika membuka pelaksanaan kegiatan Sekolah Transformasi Sosial (STS) di Kampung Mogatemin Distrik Kais Darat, Sabtu(26/3/2022).

Yohan berharap melalui STS ini para peserta dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan  untuk mengelola potensi yang ada di kampungnya masing-masing hingga mampu menghasilkan uang secara mandiri.

“Pemerintah daerah akan menjadikan kegiatan ini sebagai informasi penting untuk membahas perencanaan pembangunan ke depan,” ujar Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Sorong Selatan ini.

Yohan berjanji akan melaporkan kepada Bupati Samsudin lalu membahas agenda ini bersama perangkat daerah lainnya, kemudian mengundang Yayasan EcoNusa untuk membahas apa yang dikerjakan Yayasan EcoNusa dan apa yang bisa diakselerasikan bersama Pemerintah Daerah.

“Saya berharap EcoNusa tetap bersama Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan untuk dapat membantu mengoptimalkan penggunaan lahan-lahan bekas areal perkebunan sawit. Kedua, dapat menumbuhkan wirausaha baru untuk mengelola sumber daya alam yang ada. Saya juga ingin sharing dan diskusi dengan teman-teman EcoNusa sebagai mitra pembangunan untuk perencanaan ke depan,” tutur Yohan.

Kepala Kampung Mogatemin, Eduard Tigori, dalam sambutannya mengaku bangga dan senang kampungnya menjadi tuan rumah pelaksanaan STS. “Saya bersama masyarakat sangat antusias dan selama 7 hari kegiatan kami akan jamin semuanya, baik keamanan maupun makan dan minum, ” tegasnya. Eduard juga berterima kasih kepada EcoNusa yang telah memberikan ilmu dan menghadirkan sesuatu yang luar biasa bagi kampungnya. Ia berharap, dari kegiatan ini para peserta dapat membuat sesuatu yang baik bagi kampung masing-masing.

Sementara itu Kepala Kantor EcoNusa Wilayah Domberai, F. X. Adi Saputra, mengaku terharu dengan persiapan dan sambutan yang luar biasa dari warga Mogatemin dan Onimsefa. “Kurang lebih satu minggu ya persiapannya. Ini luar biasa. Saya mengapresiasi untuk kerja keras bapa dan ibu di kampung ini. Saya juga berterima kasih kepada semua peserta yang datang jauh-jauh dari kampungnya untuk belajar bersama dalam STS ini, ” ujarnya.

Adi berharap, kegiatan yang diikuti oleh 38 peserta dari 14 kampung di Sorong Selatan ini dapat diikuti dengan baik oleh semua peserta, sehingga ketika pulang ke kampungnya masing-masing ada bekal yang dibawa untuk dikembangkan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pemateri yang sangat antusias untuk berkunjung ke Mogatemin meskipun daerahnya cukup sulit dijangkau. 

Dalam kegiatan STS ini, untuk memperkaya materi pembelajaran turut hadir akademisi Universitas Papua, Herman Tubur, akademisi Universitas Muhammadiyah Sorong, Muh. Saleh, Staf Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan, Safrudin Wahid, Kepala Seksi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan KPHP Sorong Selatan, Yeremias YM Thesia, dan ahli bisnis Yohanes Subagyo. “Kiranya ilmu dan keterampilan yang dimiliki dapat ditularkan kepada para peserta STS,” kata Adi.

STS Mogatemin berlangsung selama 7 hari dengan komposisi teori dan praktek langsung. Selama pelatihan, para peserta STS mendapatkan materi umum berkaitan dengan kebijakan pemerintah pusat tentang implementasi Dana Desa, kebijakan daerah terkait pembangunan di kampung, hutan dan laut sebagai sumber penghidupan, budidaya pertanian, lembaga keuangan kampung, Koperasi dan BumDes, pemasaran produk dan resiko bisnis. 

Peserta juga dibagi ke dalam kelompok yang disesuaikan dengan komoditi unggulan yang akan dikelola. Kegiatan STS dibagi ke dalam tiga bidang yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Kelompok kampung yang memiliki bidang kategori yang sama dikumpulkan dalam satu kelompok untuk kemudian melakukan diskusi bersama fasilitator dan narasumber pada bidang tersebut. Masing-masing kelompok dikawal oleh fasilitator atau narasumber dalam diskusi strategis terkait pengembangan komoditi unggulan, sekaligus menyusun rencana kerja kampung. Rencana kerja yang merepresentasikan program yang akan dilaksanakan di kampung kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kampung. (Bersambung)