Cabut Izin Sawit Tancapkan School of Eco Involvement (SEI) di Sorong Selatan ( Bagian-2)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Proses fasilitasi belajar di STS Mogatemin.

Sekolah Transformasi Sosial ( STS ) di Kampung Mogatemin Distrik Kais Darat Kabupaten Sorong Selatan, nampaknya menjadi wadah diskusi yang penting dan menarik bagi warga kampung. Warga kampung yang selama ini bertanya-tanya tentang status hutannya, akhirnya bisa mendapatkan jawabannya, walaupun itu tidak membuat mereka puas.

Hal itu terlihat ketika sejumlah peserta STS Mogatemin “ menyerang “Kepala Seksi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sorong Selatan, Yermias Y.M Thesia,S.Hut dengan beragam pertanyaan usai mempresentasekan materi tentang pengelolahan potensi sumber daya alam, kaitannya dengan perlindungan hutan dan lautan, pada hari pertama pelaksanaan STS Mogatemin, Sabtu(26/3/2022).

“Kami masyarakat tidak mengerti dengan pengelolaan hutan yang dimaksud ini seperti apa? Di kampung kami ada potensi kayu damar merah dan damar putih. Masyarakat tebang pohon terus jual kayu, kami tidak pikir ke depannya seperti apa? Jadi langkah apa yang harus kami ambil?,” tanya Derek Tigori peserta STS asal Kampung Manelek.

Menanggapi pertanyaan itu, Yermias Thesia menjelaskan bahwa selama ini pihaknya ( KPH Sorsel ) belum masuk ke wilayah Manelek, karena itu di luar wilayah/lingkup kerja KPHP Sorsel. Tapi dengan aturan baru, KPHP Sorsel sudah bisa masuk ke wilayah manelek untuk melihat potensi apa yang bisa dikembangkan di Kampung Manelek.

Kepala Seksi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sorong Selatan, Yermias Y.M Thesia,S.Hut ketika menyampaikan materinya di hadapan para peserta STS Mogatemin.

“ Sebelumnya wilayah kerja KPH Sorsel dibatasi hanya pada Hutan Lindung dan Hutan Produksi. Sedangkan Kampung Manelek itu termasuk dalam Hutan Produksi Konversi. Nah, dengan adanya aturan baru (PP 23 Tahun 2021), KPH Sorsel sudah bisa masuk ke Hutan Produksi Konversi. Jadi nanti kita lihat potensi apa yang bisa didorong di sana,” tandas Yermias.

Namun Yermias berharap, masyarakat setempat khususnya dari Kampung Manelek dan juga kampung-kampung lainnya harus mengelolah potensi alamnya secara bijaksana. “ Kalau tebang pohon untuk keperluan bangun rumah warga silakan, tapi jangan sampai jual hutan ke orang lain, nanti masyarakat sendiri yang susah,” ujarnya.

Pertanyaan berikutnya dari Alfaris Dere peserta STS asal Kampung Mogatemin. Dirinya mempertanyakan status hutan konservasi dan hutan lindung.” Kami masyarakat bingung, pemerintah bilang ini hutan lindung, ini hutan konservasi, tidak usah tebang pohon, nanti polisi tangkap. Tolong bapa jelaskan apa perbedaan dan persamaan hutan lindung dan hutan konservasi itu? Lalu siapa yang menentukan hutan itu hutan lindung dan hutan konservasi? Apakah dari masyarakat atau pemerintah?,” tanya Alfaris.

Pertanyaan ini sempat membuat ruang diskusi jadi ramai, karena sebagian besar peserta nampaknya memiliki pandangan yang sama. “ Status hutan di Indonesia ditetapkan oleh Pemerintah. Hutan konservasi itu fungsinya untuk melindungi keanekaragaman hayati, supaya tidak punah. Karena di hutan itu ada fauna endemik, ada flora endemik, yang hanya ada di tempat itu. Karena itu, hutan itu ditetapkan sebagai hutan konservasi supaya flora dan fauna endemik papua itu tidak punah,” jelasnya.

Sementara hutan lindung, lanjutnya adalah hutan yang berfungsi untuk menjaga ekologi dan ekosistem di daerah itu. Kalau hutan itu rusak, bisa merusak sistem lingkungan yang lebih besar dan berdampak buruk bagi manusia. Misalnya hutan lindung yang fungsinya untuk menjaga debit air, kalau hutannya rusak, masyarakat tidak bisa dapat air bersih lagi.

Yermias Thesia dalam pemaparannya secara umum menjelaskan tentang tupoksi baru KPH Sorong Selatan sesuai pasal 123 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021. Mulai dari membuat rencana pengelolaan hutan di Hutan Produksi, Hutan Konservasi dan Hutan Lindung.

Dalam konteks otonomi khusus, KPH melaksanakan kegiatan dengan menghasilkan produksi  sekaligus memberikan contoh kepada  masyarakat, mengajak untuk melakukan usaha pemanfaatan  ekonomi khusus hasil hutan bukan kayu  dan berperan dalam setiap prosesnya.

“Disamping sebagai unit pengelola, maka diwajibkan 1 KPH  minimal 1 Produk sampai dengan finishing siap untuk dipasarkan,” jelas Yermias.

Yermias menjelaskan, sesuai dengan visi KPH yaitu Mewujudkan KPH Yang Profesional Dan Mandiri Menuju Kelestarian Hutan Dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Di Tahun 2025, maka KPH Sorsel memiliki sejumlah misi, beberapa diantaranya adalah menciptakan  peluang dan  iklim investasi di  bidang  kehutanan serta  menumbuhkan  budaya  entrepreneurship  dalam  peningkatan  usaha bidang  kehutanan untuk  mencapai  manfaat  lingkungan,  sosial, budaya  dan ekonomi  yang seimbang  dan lestari untuk  kesejahteraan  rakyat serta mewujudkan  pemberdayaan  masyarakat  dalam konteks  otonomi daerah,  otonomi khusus  bagi provinsi  papua dan  papua barat.

Beberapa kegiatan pengelolaan kawasan hutan yang telah dilaksanakan KPH Sorong Selatan diantaranya melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap pemegang ijin untuk Hasil Hutan Kayu. Hasilnya tiga perusahaan telah mendapatkan Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), yakni PT. Bangun Kayu Irian, PT. Mitra Pembangunan  Global dan PT. Manca Raya Agro Mandiri.

Untuk Hasil Hutan Bukan Kayu, KPH Sorsel telah mendorong pengelolaan Sagu, Damar ,Gaharu, Sarang Semut, Minyak Atsiri,  Madu oleh kelompok masyarakat sekitar hutan. Dan untuk Jasa Lingkungan, KPH Sorsel bersama masyarakat sekitar kawasan hutan telah merintis wisata Air terjun, Spot Foto dan Air Minum Dalam  Kemasan (AMDK).

Jangan Cuma makan, harus tahu tanam juga…

Proses pembuatan rakit untuk pembibitan tanaman sagu dilakukan oleh peserta STS Mogatemin.

“Jangan cuma tahu makan saja, harus tahu tanam juga”. Kalimat yang dilontarkan mama-mama dari dapur umum STS Mogatemin saat makan papeda bersama itu, kesannya bercanda, tapi cukup menohok jantung Dorina Tigori dan peserta STS lainnya dari kelompok belajar sagu.

Dorina bukannya tidak bisa menanam sagu, tapi beberapa kali ia mencoba menanam, tidak pernah berhasil. Padahal cara yang digunakan adalah cara umum yang sering digunakan orangtua di kampungnya. Hal yang sama diakui  Kepala Kampung Mogatemin, Eduard Tigori yang ikut mendampingi proses pembelajaran kelompok budidaya sagu.

“ Saya juga beberapa kali tanam bibit sagu di dusun, tapi semuanya mati. Itu yang buat saya penasaran, dan ikut melihat proses belajar di kelas ini,”ujar Eduard Tigori.

Eduard mengakui, bahwa setelah mengikuti proses pembelajaran yang diberikan oleh pemateri, yang disertai dengan praktek lapangan, ia memiliki tambahan ilmu, dan tidak sabar untuk segera mempraktekannya.

Berbeda dengan Dorina dan Eduard, peserta STS lainnya, Borina Kemesrar asal Kampung Woloin dan Mesak Woloble justru tertarik pada pemanfaatan limba sagu untuk proses pembuatan jamur sagu. Hal ini cukup beralasan, karena dusun sagu di kampung Woloin dan Haha masih cukup luas. Sementara hasil ampas sagu yang biasa dilakukan di kampungnya, hanya dibiarkan begitu saja. “ Kami baru tahu, kalau itu bisa diolah lagi dengan baik untuk menghasilkan banyak jamur sagu,” tandas Mesak.

“ Terima kasih untuk Bapak Dosen yang sudah berikan kami ilmu yang luar biasa. Kami akan pulang ke kampung kami dan mempraktekan apa yang sudah kami terima. Saya sudah punya rencana untuk pulang ke kampung dan buat jamur sagu,” ujar Borina Kemesrar.

Sementara itu Herman Tubur, seorang peneliti dan dosen di Universitas Papua yang memiliki segudang pengalaman terkait budidaya sagu di Papua ini memberikan apresiasi yang tinggi kepada para peserta. Materi dalam bentuk teori dan praktek yang diberikan kepada para peserta diikuti dengan serius dan penuh semangat.

“ Saya lebih spesifik memberikan materi tentang managemen pengelolaan pada hutan sagu yang dimiliki masyarakat. Saya tidak hanya memberi ilmu yang saya ketahui, tapi ternyata saya juga banyak belajar dari para peserta bagaimana mereka mengelola hutan sagunya,” jelas Herman.

Diuraikan, selain mengamati pola pertumbuhan sagu pada setiap rumpun yang ada, juga belajar bersama proses pembibitan tanaman sagu dengan metode rakit dan metode pembuatan kolam. Itu dua hal terkait managemen pengelolaan hutan sagu. Juga melakukan simulasi penanaman bibit sagu.

“ Kita ketahui bahwa proses penanaman bibit sagu ini adalah hal paling penting dalam pengelolaan hutan sagu agar tetap berkelanjutan. Kami juga belajar bersama membuat rumah pengering sagu yang sederhana untuk membuat tepung sagu.Kemudian dari tepung sagu yang dihasilkan itu dibuat produk turunannya, yaitu pentolan bakso dari bahan dasar tepung sagu dan udang, yang merupakan potensi yang ada di kampung ini,” jelas Herman Tubur yang juga Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Universitas Papua.

Herman berharap apa yang sudah dipelajari dan dipraktekkan bersama ini dapat diteruskan oleh para peserta di kampungnya masing-masing. Mengingat semua peserta yang mengikuti STS ini berasal dari kampung-kampung yang memiliki dusun sagu.

“ Terima kasih juga kepada EcoNusa yang menginisiasi program yang luar biasa ini. Saya berharap program ini dapat mengkoneksikan dengan beberapa bidang pengetahuan, sehingga masyarakat adat dan orang papua di kampung-kampung ini dapat memaksimalkan potensi yang ada untuk memberikan dampak ekonomi bagi mereka,” ujarnya. (bersambung)