Cabut Izin Sawit Tancapkan School of Eco Involvement (SEI) di Sorong Selatan ( Bagian-3)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Salah satu peserta STS Mogatemin ketika mencangkul lahan untuk membuat bedeng tanaman sayuran di Kampung Mogatemin, Selasa(29/3/2022).

Sekolah Transformasi Sosial (STS) di Kampung Mogatemin Distrik Kais Darat Kabupaten Sorong Selatan bisa dikatakan sebagai salah satu jembatan penghubung ilmu pengetahuan bagi masyarakat kampung. Misalnya di bidang pertanian, hampir sebagian peserta belum familiar dengan proses pembuatan pupuk organik dan pembuatan kompos, padahal di luar sana sudah jauh melangkah dengan menggunakan teknologi terbarukan.

Situasi ini kemudian membuat proses belajar dan praktek pada kelompok pertanian menjadi lebih lama dari dua kelompok lainnya. Safrudin Wahid, fasilitator dari Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan ini memulai dengan memberikan teori tentang pupuk organik, kompos dan keunggulannya, serta alat dan bahan yang digunakan.

Pada sesi ini, fasilitator menjelaskan dan menunjukkan peralatan dan bahan apa saja yang digunakan untuk praktek pembuatan pupuk padat dan pupuk cair. Peralatan dan bahan ini bisa diganti dan disesuaikan dengan apa yang ada di sekitar tempat tinggal petani.

Peserta di kelas pertanian memperhatikan dengan antusias dan menanyakan beberapa hal terkait pembuatan pupuk dan aktivitas pertanian, misalnya ada yang bertanya apakah penggunaan kotoran kambing, ayam atau sapi sebagai bahan dasar pembuatan pupuk bisa diganti dengan kotoran babi atau limbah ikan ? Kemudian apakah EM 4 bisa diganti dengan obat lain ? Lalu bagaimana membuat bedengan yang benar dan terhindar dari banjir? Jika sayuran terkena hama bagaimana mengatasinya ? hingga pertanyaan berapa ukuran rumah pembibitan yang ideal ?

Hampir semua pertanyaan dari para peserta langsung dijawab oleh pemateri/fasilitator, namun ada peserta yang tidak puas, dan terus menanyakan hal yang sama, meskipun sudah dibantu oleh peserta lain untuk memberikan pengertian sederhana. “Untuk lebih jelasnya, nanti waktu praktek,” ujar Pak Udin, panggilan akrab Safrudin Wahid.

Usai memperkenalkan alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan pupuk padat dan cair, kegiatan pertanian dilanjutkan esok harinya dengan melihat langsung lokasi rumah bibit dan kompos yang sudah di sediakan kepala kampung Mogatemin. Lokasi ini merupakan sebidang tanah bekas bengkel alat-alat berat perusahaan KORINDO yang sudah lama tidak digunakan.

Ada 4 bidang tanah bekas bengkel yang sudah memiliki tiang-tiang besi sebagai penyangga atap dan dinding. Tiap blok memiliki ukuran 8×8 meter, pembangunan rumah bibit dan kompos hanya mengambil 1 blok dengan perkiraan pembangunannya akan dilakukan berdampingan supaya bisa memenuhi ruang. Terlihat lokasi sudah dibersihkan dari rumput dan ilalang sehingga proses pembangunan lebih mudah untuk dilakukan. Kayu dan bambu sudah disediakan di sekitar lokasi pembangunan. Hal pertama yang dilakukan dalam pembangunan ini adalah membuat rangka kayu rumah bibit dan kompos dengan perkiraan luas masing-masing bangunan 4 x 4 meter².

Target utama kerja pada hari ke dua adalah rumah bibit dan kompos sudah terbentuk dan atapnya tertutup oleh jaring (paranet). Peserta terbagi menjadi 2 kelompok dengan tugas kelompok 1 membuat lubang pondasi dan mendirikan tiang kayu serta rangka sedangkan kelompok 2 mencari tambahan bambu dan kayu yang kurang untuk pembangunan. Desain atap rumah awalnya berbentuk kubah untuk menjaga kelembaban tanah yang ada di dalam namun atas usul peserta maka bentuknya berubah menjadi bidang miring dari depan ke belakang dengan rangka bambu belah yang memanjang.

Sampai dengan jam 16.30 target penyelesaian sudah mencapai 70% dan harus dihentikan karena hujan.

Kendala yang dihadapi selama pembangunan ini adalah cuaca panas yang menyengat sehingga membuat peserta kelelahan serta harus sering minum untuk mencegah dehidrasi. Keterbatasan alat pertukangan juga menjadi salah satu kendala karena alat yang ada harus berbagi dengan peserta di kelas sagu dan perikanan.

Pembangunan rumah bibit dan pupuk dilanjutkan pada hari ke tiga dengan mentargetkan penutupan seluruh bangunan dengan menggunakan jaring dan pembuatan bedengan untuk pembibitan tanaman. Selain itu diupayakan juga untuk mempraktekkan pembuatan pupuk padat dan pupuk cair supaya peserta memiliki pemahaman yang lengkap mulai dari pembangunan rumah bibit sampai pembuatan dan penggunaan pupuk padat dan pupuk cair.

Pekerjaan diawali dengan melengkapi rangka tiang dan atap rumah menggunakan kayu bulat, bambu dan kayu untuk pembuatan pintu. Seluruh peserta bergotong-royong membangun rumah ini dengan melakukan setiap pekerjaan yang mereka kuasai.

Safrudin Wahid memberikan apresiasi dan rasa bangga kepada semua peserta di kelas pertanian. Walau dalam kondisi cuaca panas yang menyengat, semua saling mendukung untuk menyelesaikan pekerjaan, bahkan mengikuti dengan seksama semua proses yang diberikan.

“ Saya salut, ini luar biasa. Saya pikir ini tidak boleh berhenti di sini saja, tapi harus terus digalakkan, supaya bisa memberikan contoh bagi masyarakat lainnya,” kata Safrudin.

Menanggapi proses pembelajaran itu, Yafeth Kontjol peserta asal Kampung Wersar memberi pujian. Menurutnya, apa yang dipelajarinya pada STS Mogatemin ini tidak pernah ia dapatkan di tempat lain. “ Saya sudah sering ikut-ikut pelatihan dari tahun ke tahun, tapi yang seperti ini baru saya dapat di sini,” katanya. Karenanya, ia memberikan ucapan terima kasih kepada EcoNusa yang menginisiasi kegiatan STS ini. Dirinya berharap, kegiatan STS hendaknya dapat terus dilakukan tiap tahun, sehingga dapat membantu masyarakat menjadi pintar mengelola potensi alamnya.

Peserta STS Mogatemin berjanji mengolah potensi Udang di kampungnya

Muhamad Saleh Rumwokas, dosen Universitas Muhamadiyah Sorong ketika mempraktekan proses pembuatan kerupuk udang kepada peserta STS Mogatemin, di Kampung Mogatemin, Senin(28/3/2022)

Peserta belajar di Sekolah Transformasi Sosial (STS) Mogatemin Sorong Selatan tidak hanya belajar tentang budidaya tanaman sagu dan cara membuat pupuk organik, namun mereka juga belajar cara menghasilkan produk turunan dari Udang, yaitu berupa kerupuk udang dan naget udang.

Kenapa udang? Karena para peserta yang mengikuti kelas belajar STS Mogatemin ini berasal dari kampung-kampung yang memiliki potensi udang melimpah, khususnya udang air payau dan udang air tawar.

Muhamad Saleh Rumwokas, dosen Universitas Muhamadiyah Sorong yang memfasilitasi kelompok belajar pembuatan kerupuk udang dan naget udang, mengawali proses ini dengan memberikan pemahaman tentang manfaat dan gizi yang terkadung dalam udang, kemudian memperkenalkan alat dan bahan yang dipakai untuk membuat kerupuk udang dan nuget udang.

Menariknya saat proses praktek berlangsung, tidak hanya para peserta STS yang mengikuti, tapi mama-mama yang bekerja di dapur umum juga ramai-ramai menyimak, walau hanya dari balik bilik ruang belajar.

Hermalina Gerawas, Ketua Tim Penggerak PKK Kampung Mogatemin, yang juga istri Kepala Kampung Mogatemin mengaku, ibu-ibu yang bekerja di dapur ingin sekali ikut proses membuat kerupuk dan naget dari Udang, namun tidak memungkinkan karena harus bekerja di dapur untuk menyiapkan makan dan minum dalam menopang kegiatan STS.

“ Biar anak-anak yang ikut saja, supaya mereka punya ilmu dan bisa bantu mama-mama di kampung ini untuk bikin udang jadi kerupuk,” kata Hermalina.

Yanto Kemesrar, peserta STS dari Kampung Haha yang ikut dalam kelompok pengelolaan produk turunan dari udang, berjanji akan meneruskan ilmu yang diterimanya di kampungnya. Bukan hanya udang, tapi potensi alam lain di kampungnya juga akan coba didorong. “ Kami juga punya sagu, juga ada gaharu. Karena kami pernah ikut pelatihan tentang gaharu, dan sudah sering jual gaharu,” ujar Yanto.

Sementara itu, Mahamad Saleh Rumwokas selaku fasilitator dalam kelompok ini berharap para peserta dapat langsung berproduksi sehabis kegiatan.  Karena menurutnya, potensi udang yang ada di kampung masing-masing peserta cukup melimpah. “ Yang penting mereka pulang, langsung mempraktekan apa yang dipelajari di sini. Mereka juga harus banyak berkreasi, karena produk turunan dari udang itu banyak sekali, bukan hanya kerupuk dan naget,” jelasnya.

Dirinya mengaku bahwa ilmu yang diberikan dalam STS ini tidak lengkap mengingat terbatasnya alat dan bahan, karena itu dirinya membuka diri bila ada peserta yang serius untuk menghasilkan produk turunan dari udang, ia akan siap membantu. “ Saya berharap kegiatan ini tidak terputus di sini, tapi harus terus didampingi, sehingga para peserta merasa terus diperhatikan. Dengan demikian akan memotivasi mereka untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat, terutama mewujudkan apa yang sudah dipelajari dari tempat ini,” tandasnya.

Sekadar diketahui, bahwa setelah proses belajar 5 hari, para peserta STS selanjutnya akan mempraktekan ilmu yang diterimanya di kampung masing-masing. Bukan saja membuat kerupuk udang dan naget, tapi juga mempraktekan cara membuat pupuk organik untuk pertanian, menanam sayuran di bedeng, membuat pembibitan sagu dan membuat produk turunan dari sagu, sesuai rencana tindak lanjut dalam tiga bulan yang disusun.(bersambung)