Cabut Izin Sawit Tancapkan School of Eco Involvement (SEI) di Sorong Selatan ( Bagian-4)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Peserta STS dari Kampung Onimsefa ketika mempresesentasekan rencana tindak lanjut tiga bulan ke depan yang akan dilakukan di kampungnya. Rencana tindak lanjut ini adalah salah satu rangkaian dari kegiatan Sekolah Transformasi Sosial yang berlangsung di Kampung Mogatemin, 26-31 Maret 2022.

Sekolah Transformasi Sosial yang diinisiasi oleh EcoNusa, adalah bagian dari sebuah rangkaian edukasi bagi masyarakat di kampung. Proses ini diawali dengan pendataan dan analisa pasar untuk melihat potensi masyarakat di kampung, kemudian masyarakatnya diberikan tambahan pengetahuan dan keahlian agar mampu mengelola potensi yang mereka miliki hingga ke pasar, yang pada ujungnya, masyarakat akan menerima upah dari hasil pengolahan itu.

Konsultan EcoNusa untuk urusan Bisnis, sekaligus sebagai fasilitator utama dalam STS Mogatemin, Yohanes Dwi Subagyo, menjelaskan, dalam Proses STS, selain diperkuat pada skill menciptakan produk dari kampung, yang lebih penting adalah masyarakat mampu menyusun, membaca dan mengelola data dan informasi, karena data dan informasi itu yang akan menjadi dasar dalam pengelolaan potensi kampungnya, baik untuk jangka pendek, jangka menengah hingga jangka panjang.

Selain itu, melalui STS ini para peserta dibekali dengan keterampilan menyampaikan data, sehingga mereka dapat menjelaskan data dan informasi kepada masyarakat yang lebih luas, berdasarkan pengalaman dan teknik sederhana yang mereka pelajari.

Pada STS ke-6 di Mogatemin Sorong Selatan, materi pembelajaran yang diberikan disesuaikan dengan masukan para kepala kampung berdasarkan karakteristik dan potensi komoditas yang dimiliki. Dari 14 kampung yang ikut STS ini, potensi yang paling dominan mereka miliki adalah Sagu dan Udang, sementara berkebun tradisional adalah tradisi yang sudah turun temurun digeluti, sehingga ini juga menjadi bagian yang diusulkan untuk diperkuat.

Nah, karena berpijak dari apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, sehingga dalam proses pelaksanaan STS Mogatemin, semua peserta mengikutinya dengan serius. Para pemeteri yang dihadirkan untuk memberikan ilmu, adalah para pemateri yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni, sehingga proses transfer pengetahuan ini dapat berjalan dengan baik dan cukup memuaskan.

Meskipun pada bagian lain ada transfer pengetahuan yang belum sempurna, hal itu tidak menjadi sebuah halangan, karena sesuai filosofi STS yaitu terus berjalan sambil belajar atau berjalan sambil membuat jalan, inilah yang kemudian menjadi kekuatan EcoNusa untuk berani bekerja bersama masyarakat untuk mengangkat potensi alamnya dikelola secara bijaksana untuk memberikan kesejahteraan dan menjamin keberlanjutan hidup Orang Asli Papua, di tanahnya sendiri.

“Minimal masyarakat mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dengan cara-cara yang sederhana,” ucap Fasilitator STS Mogatemin, Yohanes Dwi Subagyo.

EcoNusa dan lembaga lainnya sebenarnya hanya starter saja, yang punya kewajiban untuk memperhatikan persoalan masyarakat adalah pemerintah. Karena itu, sangat diharapkan peran penting pemerintah untuk memperkuat titik-titik yang berada dalam wilayah kewenangan pemerintah, sehingga lembaga lainnya seperti EcoNusa akan mengawal proses ini dengan baik dan lancar, demi percepatan kesejahteraan masyarakat di kampung-kampung.

Badan Usaha Milik Kampung (Bumkam) atau Koperasi adalah unit-unit usaha yang dapat didorong bersama masyarakat di kampung, sehingga dapat berperan lebih aktif dan lebih mengakar untuk mendongkrak perekonomian kampung.

Diharapkan kolaborasi yang strategis antara Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan dan EcoNusa dapat lebih ditingkatkan, sehingga apa yang sudah dimulai melalui School of Eco Involvement ini dapat berproses dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi Orang Asli Papua di kampung-kampung, terutama di kampung-kampung terpencil yang mendiami daerah pesisir dan dalam kawasan hutan di Sorong Selatan.(selesai)