Sasi Sambite, Kearifan lokal Suku Irarutu yang Terlupakan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Mario Tanggarofa, Siswa Kelas 2 SMP Negeri Mandiwa hari itu memilih untuk tidak ke sekolah. Ia bersama teman-temannya di Kampung Kufuriyai dan Kampung  Manggera Distrik Arguni Bawah, Kabupaten Kaimana berinisiatif bergotong royong membantu orang tua mereka mempersiapkan upacara adat Sasi Sambite. Ini merupakan upacara adat yang belum pernah mereka saksikan, dan itu akan menjadi catatan sejarah sekaligus warisan leluhur yang akan terpatri dalam keberadaan mereka sebagai generasi suku Irarutu untuk menjaga potensi sumber daya alamnya.

Dua ketua adat ketika mengikat tali hutan pada dua buah kayu yang ditancap menyilang di bawah pohon pala. Tanda bahwa pohon pala itu telah disasi.

Upacara adat Sasi Sambite adalah upacara yang digelar melalui ritual adat untuk memasang tanda larangan memanen buah pala dalam kurun waktu tertentu. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pala, agar menarik minat pembeli dan dapat dijual ke pasar dengan harga yang layak. Karena dengan harga biji pala yang layak, pendapatan warga akan ikut meningkat bahkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah Mario dan kawan-kawannya di kampung.

Pohon Pala adalah komoditi utama yang telah memberikan manfaat ekonomi dan membantu biaya pendidikan bagi sebagian besar warga di Distrik Arguni Bawah Kabupaten Kaimana, termasuk di Kampung Kufuriyai, Kampung Manggera, Warmenu dan Egerwara. Namun, kualitas biji pala yang dijual ke pembeli dinilai masih rendah, sehingga nilai rupiah yang didapat oleh warga dari hasil penjualan pala itu-pun tidak memuaskan.

Dari hasil kajian analisis nilai ekonomis yang dilakukan Yayasan EcoNusa (2021), penerimaan pekebun yang diperoleh dari penjualan biji dan fuli (bunga) pala kepada pedagang pengumpul lokal di tingkat kampung rata-rata sebesar Rp 35.000,- per kg biji pala, sedangkan untuk fuli sebesar Rp 200.000,- per kg. Sebagian pekebun juga ada yang menjual produksi pala langsung ke pedagang besar yang ada di Kota Kaimana dengan harga Rp 40.000,- per kg. Penerimaan pekebun akan lebih besar jika produksi yang dihasilkan banyak dan harga beli tinggi. Harga jual pala saat ini, menurut pekebun sangat rendah karena tahun-tahun sebelumnya, harga biji pala kering dapat mencapai Rp 50.000,- per kg.

Nilai penerimaan yang diterima pekebun sesungguhnya bisa lebih tinggi, apabila pekebun tidak mencampur antara pala berkualitas super dengan non super. Tidak adanya standarisasi dan grading yang dilakukan pembeli lokal maupun pembeli besar di Kota Kaimana menyebabkan masyarakat mencampur produk palanya. Selain itu, saat ini transaksi dilakukan dengan sistem pedagang yang menentukan harga beli. Dalam kata lain tidak ada posisi tawar pekebun dalam traksaksi pala selama ini. Pekebun pala juga sering mengalami pemotongan berat timbang antara 10% – 20% oleh pedagang, dengan alasan biji pala masih basah.

Dari hasil kajian itu, direkomendasikan tiga hal yang harus dilakukan dan menjadi perhatian pekebun untuk berupaya meningkatkan kualitas produksi pala, yaitu dengan cara: (1) memperhatikan waktu panen yang tepat (2) metode pengolahan pasca panen pala (3) dan proses penyimpanan biji pala dan fuli, sehingga dapat dihasilkan produksi pala siap jual dengan kualitas terbaik.

Tiga rekomendasi ini disambut positif oleh warga dari empat kampung di Distrik Arguni Bawah, yaitu Kampung Kufuriyai, Kampung Manggera, Warmenu dan Egerwara. Pimpinan pemerintahan kampung dan pemimpin adat dari ke-empat kampung ini bersepakat untuk memulainya dengan mengatur waktu panen melalui Sasi Sambite.

Sasi Sambite ini kemudian mendapat dukungan warga empat kampung.  Bupati Kabupaten Kaimana, Fredy Thie yang diwakili Asisten Bidang Pemerintahan Kabupaten Kaimana, Luther Rumpumbo, mengapresiasi upacara Sasi Sambite ini

Tarian Sirosa menyambut kedatangan Asisten Bidang Pemerintahan Kabupaten Kaimana, Luther Rumpumbo di Kampung Manggera Distrik Arguni Bawah Kabupaten Kaimana, Rabu(16/3/2022).

“ Sasi adalah suatu kearifan lokal yang harus dijaga, suatu kearifan lokal yang sudah dipraktekan oleh para leluhur kita untuk menjaga hidup ini tetap berjalan seimbang dengan alam dan tetap berlanjut,” kata Luther Rumpumbo ketika memberikan sambutan pada upacara Sasi Sambite di Kampung Manggera Distrik Arguni Bawah Kabupaten Kaimana, Rabu(16/3/2022).

Luther yang disambut tarian tifa panjang (Sirosa) dan nyanyian bahasa suku Irarutu ini, mengakui potensi pala di Arguni Bawah sangat luar biasa, karena itu ia berharap semua warga harus mau bekerja keras mengembangkan pala, sehingga dapat memberikan manfaat besar bagi keluarga, terutama dalam mendukung pendidikan anak-anak.

“ Kamu harus jujur bahwa pala ini yang bikin sampai kamu bisa sekolah. Jadi mari kerja keras untuk usaha pala ini, supaya anak-anak ini, generasi kita bisa menikmati hasilnya. Anak-anak kita bisa sekolah sampai tinggi-tinggi,” tandasnya.

Luther menyatakan, Pemerintah Daerah Kabupaten Kaimana sangat mendukung inisiatif membuat sasi pala. Menurutnya ini bisa diusulkan menjadi sebuah peraturan daerah. Bukan saja untuk pala, tetapi juga untuk komoditas lainnya, sehingga komoditas yang dihasilkan dari Kaimana ini dari waktu ke waktu akan semakin berkualitas.

Ketua Adat Manggera, Isak Bretne ketika memandang ke arah pohon pala yang akan disasi itu, lalu berbicara dalam bahasa lokal setempat sambil memandang ke arah pohon pala.

Kepala Kampung Kufuriyai, Beatrix Tefruam mengatakan, Sasi Sambite dilakukan untuk melestarikan budaya leluhur, juga meningkatkan kualitas panen pala. Ini salah satu kearifan adat Suku Irarutu yang merupakan model dan modal pengelolaan dan perlindungan sumber daya alam bagi masyarakat suku Irarutu yang mendiami daratan selatan Tanah Papua.

“ Tanaman Pala adalah komoditas utama yang menopang ekonomi rumah tangga di empat kampung ini. Saya bisa katakan 99 persen pendapatan masyarakat kampung Kufuriyai, Manggera, Egarwara dan Warmenu diperoleh dari hasil panen pala,” tandas Kepala Kampung Kufuriyai yang menjadi inisiator dan penggerak dari upacara Sasi Sembite ini.

Karena pentingnya komoditas pala, maka ke-empat kepala kampung ini bersepakat untuk mengalokasikan dana desa 25 juta/kampung/tahun melalui Badan Usaha Milik Kampung (Bumkam) untuk mengelola tanaman pala.

“ Bumkam bersama empat kampung ini kami namakan Nembeve. Bumkam ini yang akan menjadi perantara antara petani dan pasar. Kami akan kawal penggunaan dana ini, demi akuntabilitas dan transparansi, mengingat dana ini merupakan dana masyarakat,” jelasnya.

Dirinya berterima kasih kepada Yayasan EcoNusa yang selama ini memfasilitasi dan ikut mendorong perubahan di empat kampung. Harapannya, EcoNusa terus mendampingi mereka, sehingga warga kampung dari  ke-empat kampung ini menjadi mandiri.

“ Tugas utama kita adalah mewariskan mata air bagi anak cucu kita, bukan sebaliknya mewarisi air mata bagi mereka. Dan Arguni Bawah akan menjadi inspirasi dan contoh bagi distrik lainnya dan itu dimulai dari kita,” tutur salah satu kepala kampung wanita asal Suku Irarutu ini.

Direktur Komunikasi dan Mobilisasi Anak Muda Yayasan EcoNusa, Nina Nuraisyah memberikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat di empat kampung ini, karena telah menerima kunjungan mereka dengan pelayanan yang luar biasa. Ia juga mengapresiasi niat mulia dari warga empat kampung untuk mengembalikan tradisi leluhur yaitu Sasi Sambite yang sudah lama dilupakan.

“ Ini terobosan baru di kampung yang sangat baik, muda-mudahan inisiatif ini tetap dipertahankan sehingga dapat memberikan manfaat dalam hal memperbaiki kualitas pala dari empat kampung ini, agar memperoleh harga yang layak di pasar,” ujar Nina.

Usai seremoni pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan memasang tanda larangan (sasi) di pohon pala. Perjalanan ke lokasi sasi diiringi tarian Sirosa atau tarian tifa panjang dan nyanyian bahasa suku Irarutu.  Kepala Suku Manggera, Yosep Surune,  Ketua Adat Manggera, Isak Bretne dan Ketua Adat Kufuriyai, Abraham Tefruam memimpin jalannya Sasi Sambite.

Warga dari empat kampung(Kampung Kufuriyai, Manggera, Egarwara dan Warmenu) ketika berbondong-bondong ingin menyaksikan upacara Sasi Sambite.

Isak Bretne memandang ke arah pohon pala yang akan disasi itu, lalu berbicara dalam bahasa lokal setempat sambil memandang ke arah pohon pala. Setelah itu, ia mengambil rokok negeri ( helai daun dan tembakau berasal dari bahan lokal setempat), kemudian membuat api dari korek api negeri, yang terbuat dari bambu dan serbuknya dari  bahan nibun. Serbuk nibun itu, digosok-gosok ke bambu dengan bantuan beling atau batu, lalu menghasilkan bara api. Bara api itulah yang dipakai untuk membakar rokok.

Kemudian dua batang kayu ditancap ke tanah dan menyilang pada pohon pala, lalu ditambahkan potongan daun kelapa muda pada tempat penyilangan kayu lalu diikat  menggunakan tali hutan. Itu menjadi simbol bahwa pohon itu telah disasi.

Selain korek dan rokok, ada pula pinang, sirih dan kapur yang di isi dalam sebuah wadah yang terbuat dari pelepah nibun. Komposisi korek negeri, rokok negeri, pinang, sirih dan kapur dalam wadah pelepah nibun, seperti sebuah sesajen. Ibaratnya memberikan sesajen kepada leluhur, agar doa dan harapan masyarakat untuk pala yang baik dapat dikabulkan, dan arwah leluhur menjaga semua pohon pala yang ada.

Karena itu, menurut Kepala Suku Manggera, Yosep Surune, jika ada warga yang melanggar Sasi Sambite, maka orang tersebut akan mendapat kutuk. Ada rupa-rupa kutuk yang bisa dialami oleh orang yang melanggar sasi, diantaranya jatuh dari pohon, terkena barang tajam, benda tumpul, dan sakit lainnya yang dapat menyebabkan kematian. Karena itu, warga sangat takut untuk melanggar sasi itu.

Kata Yosep, Sasi akan dibuka setelah dipastikan dengan baik bahwa buah pala benar-benar telah matang, selanjutnya para ketua adat akan menggelar upacara atau doa untuk membuka sasi itu. Sehingga pala itu dapat dipanen warga dan dijual dengan kualitas baik dan harga yang memuaskan. Harapannya tradisi ini atau kearifan lokal ini dapat terproses dengan baik, sehingga apa yang menjadi keinginan bersama dapat terwujud.

Dari hasil kajian Yayasan EcoNusa, diketahui bahwa Pala di Arguni Bawah masih dihadapkan pada berbagai persoalan pengembangan. Perbedaan margin harga jual yang sangat besar antara harga jual yang diterima pekebun dengan harga eksportir, panjangnya rantai tata niaga, belum adanya peraturan dan institusi yang mengatur perdagangan dan harga jual pala, kualitas pala (biji dan fuli) yang belum memenuhi standarisasi mutu sesuai SNI 01-0006-1993 dan SNI 01-0007-1993, kontaminasi jamur hingga menyebabkan posisi tawar yang sangat rendah adalah sekelumit persoalan yang dihadapi pekebun pala di Arguni Bawah.

Kepala Suku Manggera, Yosep Surune didampingi dua tetua adat lainnya ketika memperlihatkan biji pala dari kampungnya.

Ada 5 aspek yang menjadi permasalahan dalam pengembangan Pala di Arguni Bawah, pertama aspek Sumberdaya manusia, dimana terbatasnya akses untuk mendapatkan informasi harga dan kualitas pala di pasaran, juga tidak memiliki perencanaan yang baik, tidak ada kelembagaan yang merangkul, belum adanya aturan lokal hingga kemampuan untuk mengkontrol diri.

Kedua adalah aspek pemerintahan, dimana tidak tersedianya penyuluh lapangan yang sebenarnya memiliki peran dan fungsi penting dalam melakukan pendampingan dan pengetahuan terkait teknik budidaya, paska panen hingga pemasaran pala, juga tidak tersedia data potensi pala dan  tidak ada pelatihan standar pala kualitas ekspor yang sesuai SNI. Ketiga, aspek bahan baku, dimana belum ada pengolahan pasca panen pala. Saat ini penanganan hanya dilakukan secara tradisional yakni dengan pengasapan (diasar); Sebagian masyarakat melakukan panen muda sehingga pala yang dihasilkan tercampur; Masyarakat belum mengetahui Teknik budidaya pala yang baik. Sepeti komposisi tanaman pala setiap ha, penanganan hama dan penyakit.

Ke-empat aspek pemasaran, dimana Jalan penghubung menuju ke pelabuhan di Kampung Mandiwa rusak berat; Pemasaran hasil pala masih dilakukan perseorangan; Harga jual pala ditentukan oleh pembeli. Ke-lima aspek lingkungan, dimana areal tanam yang belum dilakukan dalam skala besar meski potensi lahan ada dan Panen pala yang tidak serentak karena musim yang tidak menentu.

Permasalahan di atas ini, setidaknya dialami oleh 160 kepala keluarga di 4 Kampung di Arguni Bawah. Kondisi diatas semakin tidak bagus bila melihat latar belakang pendidikan pekebun pala. Dari hasil kajian diketahui bahwa 92,3% responden kajian ini berlatar belakang hanya tamatan sekolah dasar. Sehingga pengetahuan yang mereka miliki mengenai budidaya pertanian, khususnya pala sangat minim. Pekebun rata-rata hanya belajar secara otodidak melalui apa yang mereka dengar dan lihat dari pekebun pendahulunya atau dari kerabatnya. Untuk itu, bimbingan dan pelatihan dalam seluruh proses rantai produksi pala menjadi penting agar para pekebun tersebut memiliki bekal yang matang. Sehingga kedepan hasil budidaya pala dapat meningkat seiring perkembangan pengetahuan dan keterampilannya.*)