Jaga Hutan ala Papua, Kearifan Lokal Yang Bermanfaat Global

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Kampung Kwowok di Sorong Selatan, Papua Barat. Nama Kwowok sendiri berasal dari nama sebuah pohon, marga Kolin, salah satu marga di kampung ini juga dipercayai memiliki asal usul dari pohon. Kepercayaan ini yang membuat warga di kampung ini menjaga hutannya dan tidak merusak apalagi menjualnya, karena akan membawa malapetaka bagi mereka. (Foto Drone : Abe Yomo)

Hutan memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Hutan menyediakan manfaat esensial bagi seluruh spesies. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, semua berasal dari hutan.

Hutan juga memiliki peran krusial dalam mencegah perubahan iklim. Beragam pohon yang ada dalam hutan mampu menyerap karbon dioksida dan melepas oksigen. 

Saat ini, bumi sedang mengalami perubahan iklim (climate change) yang dapat mengancam kehidupan di bumi. World Bank memprediksi pada tahun 2030, efek perubahan iklim dapat membawa kemiskinan bagi 100 juta orang di dunia.

Perubahan iklim terjadi akibat penggunaan bahan bakar fosil dalam kehidupan sehari-hari seperti menggunakan bensin, batu bara, dan masih banyak lagi. Hasil dari penggunaan bahan bakar fosil adalah karbon dioksida yang terlepas di udara sehingga meningkatkan suhu bumi. Akibatnya, bumi mengalami cuaca ekstrem yang sulit diprediksi. Musim kemarau menjadi lebih lama, suhu udara semakin panas, gunung es mencair sehingga air laut naik, dan masih banyak efek perubahan iklim yang berbahaya bagi kehidupan.

Hutan juga berperan sebagai daerah resapan air sehingga mampu mencegah banjir. Namun, menurut World Wild Life (WWF), pada tahun 2020, daerah tropis telah kehilangan lebih dari 12 juta hektar lahan hutan. Jumlah tersebut kira-kira setara dengan 30 lapangan sepak bola.

Penebangan liar, praktik pengelolaan hutan yang buruk, dan perubahan lahan hutan untuk perkebunan berkontribusi pada kerusakan hutan. Padahal, ada berbagai manfaat hutan yang berguna untuk keberlangsungan hidup manusia.

Seperti kita ketahui, di Indonesia khususnya Rimba Papua merupakan salah satu penyumbang hutan terbesar di dunia, setelah hutan Amazon di Brazil. Dari pengelompokan, hutan Papua termasuk hutan tropis yang memiliki ekosistem terlengkap di dunia. Adapun hutan memiliki asas fungsi dan manfaat baik langsung maupun tidak (langsung), bagi planet bumi maupun masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP).

Masyarakat Hukum Adat (MHA) Papua adalah entitas yang hidup di sekitar hutan, dan bergantung pada hutan. Rencana Kehutanan Nasional (RKN) 2011-2030 yang dikeluarkan oleh KLHK melalui Permen KLHK No NOMOR P.41/MENLHK/SETJEN/KUM.1/7/2019, menyebutkan bahwa Jumlah kampung/desa yang berada di dalam Kawasan hutan sebanyak 1.394,  ditepi dan sekitar hutan sebanyak 4.070, sementara diluar hutan sebanyak 2.075. Data tersebut juga menegaskan bahwa, ada 118,963 KK Masyarakat adat Papua masih di katagori sebagai pemungut hasil hutan dan 137,672 KK sudah masuk dalam kategori usaha dibidang kehutanan. Dari data tersebut bisa dibayangkan betapa orang Papua hidup saling bergantung dengan hutan. Bagi masyarakat adat Papua, tanah dan hutan adalah ibu (mama), yang harus dibakti dan warisan leluhur yang harus dijaga. Sebagai ibu dan warisan leluhur, hutan tidak saja untuk dijaga dan dipertahankan sebagai sumber-sumber kehidupan dan penghidupan, lebih jauh dari itu, hutan sebagai ekosistem kehidupan yang mencirikan symbol-simbol budaya masyarakat adat Papua.

Seperti di Kampung Kwowok, Distrik Saifi Kabupaten Sorong Selatan yang dihuni oleh sub suku Knasaimos. Dalam pengetahuan tradisional mereka, hutan dianggap sebagai tempat sakral, dimana bersemayam arwah-arwah nenek moyang dalam wujud pohon. Dalam kepercayaan mereka, jika pohon-pohon itu ditebang atau dilukai, itu sama halnya dengan melukai moyang mereka, dan itu akan mendatangkan bencana atau malapetaka bagi orang maupun bagi kampung itu.

Kepala Kampung Kwowok, Semuel Kolin mengakui hal itu. Ia menjelaskan, nama Kwowok berasal dari nama sebuah pohon, marga Kolin juga dipercayai memiliki asal usul dari pohon Merbau. Jadi cerita ini terus diceritakan pada setiap generasi, sehingga mereka tidak sembarang. “Semua yang ada di alam ini punya hubungan dengan kita manusia yang hidup, jadi harus selalu ingatkan anak-anak generasi sekarang, biar mereka tahu, sehingga tidak tebang sembarang apalagi sampai merusak hutan.

Masyarakat adat di Kampung Bano di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat juga memiliki padangan yang sama terhadap hutannya. Masyarakat Kampung Bano secara turun temurun mengikuti pendidikan adat yang dalam bahasa lokal disebut wuon woffle sebagai praktek konservasi alam secara tradisional. Pendidikan ini mengajarkan penghormatan terhadap alam serta kepercayaan terhadap leluhur, sehingga hutan dan segala isinya sangat dijaga.

Hal ini diakui  Kepala Kampung Bano, Toni Yesnath. Hutan di wilayah adatnya tidak hanya sebagai sumber penghidupan, tapi juga memiliki fungsi sakral. Arwah nenek moyang mereka dipercaya bersemayam dalam wujud pohon, batu dan hewan-hewan tertentu. Karenanya, mereka tidak sembarang menebang pohon atau berburu hewan di hutan sekitarnya.

Pengelolaan alam yang berbasis kearifan lokal ini yang kemudian telah merawat hutan Papua, sehingga terus mengalirkan oksigen ke bumi ini.  *)

Penulis : Abe Yomo