Menelusuri Selat Sagawin, Batanta dan Salawati di Raja Ampat ( Bagian-2)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Dari Kampung Solol, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Waibon. Letak Kampung Waibon sekitar 10 KM arah barat dari Kampung Solol, dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit menggunakan longboat engine 25 PK 2 buah.

Berbeda dengan Kampung Solol, Kampung Waibon merupakan Kampung baru yang didirikan tahun 2006. Lokasi pemukimannya jauh dari pantai. berada sekitar 100 meter dari bibir pantai. Sehingga tidak nampak adanya pemukiman, bila dilihat dari laut, karena terhalang pepohonan dan tumbuhan lainnya di pantai.

Warga Kampung Waibon merupakan gabungan dari warga Kampung Solol, Kampung Kalyam dan beberapa kampung tua yang berada di sekitar pulau Batanta Selatan dan Salawati Barat. Jadi warga di Kampung ini juga memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan sebagian besar warga yang berada di kampung-kampung sekitar  Batanta Selatan dan Salawati Barat.

Jumlah penduduk di Kampung ini hanya 86 jiwa dari 28 Kepala Keluarga. Kampung ini juga dijadikan pusat Pemerintahan Distrik Salawati Barat Kabupaten Raja Ampat. Tapi sayangnya, aktivitas pemerintahan Distrik tidak berjalan baik. Kantor Distrik tak terurus, rumput liar tumbuh tinggi setinggi orang dewasa mengelilingi areal kantor. Pintu kantor tertutup rapat dan sepi, menunjukkan kesan bahwa sudah lama tidak ada aktivitas di kantor ini.

Lebih dari 3 jam, kami berdiskusi dengan Kepala Kampung Waibon, Arni Napat, Ketua Bamuskam, Korneles Dimara, penangkap Babi Hutan, Nelman Mambrasar dan beberapa tokoh pemuda dan tokoh perempuan.

Diskusi yang panjang itu kemudian mengerucut pada dua hal. Pertama, masyarakat memiliki potensi hasil kebun dan laut yang melimpah, hanya saja mereka terkendala pada biaya transportasi yang mahal dan harga beli di pasar yang sangat rendah, sehingga tidak membantu ekonomi mereka secara signifikan.

” Kami sangat bersyukur, adik-adik datang bawah kabar baik ini. Kalau boleh usul, jangan hanya babi hutan saja, tapi pisang juga. Karena tanaman pisang melimpah di kampung ini,” tutur Bapak Korneles Dimara.

Korneles menjelaskan, hasil panen pisang, belasan hingga puluhan tandang yang sering dibawah ke pasar Sorong, hasilnya tidak seberapa, bahkan kadang habis di bensin atau hanya untuk sekedar beli gula dan kopi. ” Pemborong dong mau beli itu kalau diharga Rp 10 ribu -20 ribu/ tandang, bahkan sampai Rp 5 ribu. Kalau trada, pisang tra laku,” jelasnya.

Sementara itu, Nelman Mambrasar, seorang penangkap dan pemburu Babi Hutan, mengatakan, jika dirinya sering membuat jerat babi hutan, agar bisa dijual dan membantu membiayai pendidikan anak-anaknya. ” Saya sekolahkan anak-anak sampai SMA dan sekarang ada yang kuliah, itu dari hasil jual babi hutan,” ujarnya.

Nelman mengakui tidak semua orang memiliki keberanian untuk berburu dan menjerat babi hutan. Karena salah sedikit atau tidak waspada, bisa-bisa nyawa yang menjadi taruhannya. Hanya saja soal harga, Nelman berharap bisa mendapatkan harga yang wajar, sehingga dirinya dan warga lainnya bisa bersemangat untuk memasang jerat babi hutan.

Hal kedua, menyangkut program dana kampung yang dikucurkan Pemerintah Pusat, hendaknya aturannya bisa direvisi. Sehingga bisa ada ruang dan memberi keleluasan bagi warganya untuk merasakan dana kampung itu secara langsung dan nyata.

Selama ini masyarakat cuma dengar, tapi tidak pernah melihat dan memegang uang itu, karena uangnya langsung menuju toko bangunan, untuk beli bahan-bahan bangunan membangun sarana fisik.

” Jadi kami mau, aturannya diubah, biar dana desa ini kita bisa bagi langsung ke masyarakat untuk biayai anak sekolah, atau beli kebutuhan kerja dan kebutuhan rumah tangga secara mandiri. Jadi masyarakat juga bisa langsung rasakan manfaatnya,” tutur Kepala Kampung Waibon, Arni Napat, yang diiyakan juga oleh warga lainnya.

Dari Kampung Waibon, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Waiman. Kampung ini letaknya di pulau Batanta, berseberangan dengan pulau Salawati yang dipisahkan oleh selat Sagawin. Jaraknya 6,6 KM arah utara dari Kampung Waibon, hanya butuh waktu 25 menit menggunakan longboat 2 engine 25 PK.

Pola pemukiman Kampung Waiman terlihat begitu rapi dan rumahnya berbentuk sama. Struktur rumah full beton berlantai keramik. Ada sekitar 60 rumah yang dibangun dari proyek perumahan rakyat program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia. Jumlah kepala keluarga di kampung ini ada 46, dengan mata pencairan petani dan nelayan.

Bersama Kepala Kampung Waiman, Gotlif Kapisa beserta aparat kampung dan masyarakat setempat, 2018.

Kampung ini juga memiliki sumber air yang mengalir tak henti. Tersedia juga bak penampung air dan genset untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan listrik bagi warga kampung. Semuanya merupakan bantuan pemerintah. Jadi untuk air bersih, mereka tidak kesulitan. Tapi untuk operasional genset, biasanya menunggu pencairan dana kampung.

Kepala Kampung Waiman, Gotlif Kapisa beserta aparat kampung dan masyarakat setempat menyambut kedatangan tim dengan antusias. Kami berdiskusi kurang lebih 4 jam, membahas potensi komoditas lokal dan potensi warga setempat.

Gotlif Kapisa menjelaskan, bahwa kampungnya masuk dalam wilayah pemerintahan Distrik Batanta Selatan, dan merupakan kampung baru, yang dimekarkan tahun 2006, bersamaan dengan Kampung Waibon. sehingga untuk tanaman tahunan seperti durian, langsat dan kakao masih berusia muda, dan ditanam secara acak dan terbatas di dusun-dusun warga.

Hanya saja beberapa warga kampung Waiman memiliki keahlian dalam memasang jerat babi.  Sehingga peluang pemasaran yang dibuka oleh Bentara Papua, diharapkan dapat memotivasi warganya untuk semangat melakukan aktifitas berburu, sehingga dapat membantu meningkatkan ekonomi warganya.

Gotlif juga berharap Bentara Papua dapat membantu dirinya terkait dengan peluang usaha perkebunan Kopi. ” Kalau bisa dibantu dengan bibit kopi, saya bisa menggerakkan masyarakat untuk menanam kopi,” harapnya.

Gotlif nampaknya termotivasi dengan informasi tanaman kopi yang ditelantarkan di kampung Solol. Jika bibit kopi di kampung solol masih tersedia, ia akan minta untuk dapat ditanam dan dikembangkan di kampung Waiman.

Hal serupa juga dikatakan Sekretaris Kampung Waiman, Pontinus Sawoy. Menurutnya perhatian pemerintah terhadap kampung-kampung yang jauh terpencil sangat kurang. Sehingga peluang pemasaran babi hutan yang ditawarkan Bentara Papua kiranya dapat dimanfaatkan warganya.

Beberapa upaya yang sudah dilakukan Pemerintah Kampung Waiman bersama warga di kampung adalah membuat keramba udang. Tapi kemudian menemui beberapa kendala. Satu keramba terapung yang sudah siap untuk dioperasikan, hilang terbawa arus laut.

Baik keramba maupun program lainnya di kampung, diakui sumber dananya berasal dari dana kampung, yang menjadi program Pemerintah. Selain untuk pembangunan infrastruktur, dana kampung juga dialokasikan untuk beasiswa bagi anak-anak yang sekolah di SMP hingga perguruan tinggi.

Usai pertemuan itu, tim memutuskan untuk kembali ke Kampung Solol, berhubung waktu sudah sore, dan merencanakan kunjungan ke kampung Kalyam dan Wailebet pada esok hari. Sekadar diketahui,  jarak Kampung Waiman ke Kampung Solol adalah 9,7 KM arah selatan di pulau Salawati, dengan menyeberang selat Sagawin. (bersambung)