Nestapa Mama Nelce dari Kampung Kwowok

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Mama Nelce Srekeflat saat mengolah hasil tokok sagu untuk menghasilkan pati sagu. Selain untuk kebutuhan makan sehari-hari, juga dijual ke Pasar Teminabuan untuk membeli kebutuhan bahan pokok dan memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Tanaman sagu merupakan tanaman penting yang dijaga warga di wilayah adat Knasaimos, untuk menjamin keberlanjutan hidup generasi yang akan datang. (Foto : Abe Yomo)

Kampung Kwowok Distrik Saifi Kabupaten Sorong Selatan merupakan salah satu kampung terpencil di Rimba Papua. Perjalanan ke kampung ini tidak mudah, kita harus menyewa kendaraan dari Kota Sorong, lalu melakukan perjalanan sejauh kurang lebih 160 Kilometer dengan waktu tempuh 5 jam.

Kampung ini selain dikelilingi hutan tropis, juga memiliki hutan sagu yang cukup luas. Hutan sagu inilah yang kemudian menjadi sumber karbohidrat, sumber protein tapi juga menjadi sumber ekonomi bagi warga sekitar. Selain untuk kebutuhan makan, hasil olahan pohon sagu dari kampung ini juga dijual ke Teminabuan, ibukota Kabupaten Sorong Selatan.

Sulitnya akses transportasi menjadi kendala bagi warga untuk memasarkan hasil kebun dan hasil tokok sagu. Meskipun saat ini sudah dipermudah dengan jaringan telepon seluler untuk memanggil sopir angkutan penumpang dan barang, terkadang itu tak banyak membantu. Karena ada syarat yang ditentukan para sopir angkutan. Misalnya para sopir bisa melayani ke Kampung Kwowok, jika ada penumpang dari Teminabuan yang melakukan perjalanan ke tujuan yang sama, atau bisa dilayani kalau dengan hitungan penyewaan. Alasan para sopir seperti itu, bisa jadi dipengaruhi oleh kondisi jalan yang kurang baik dari perempatan jalan ke Kampung Kwowok.

Sehingga pilihan yang sering diambil warga kwowok adalah berjalan kaki sejauh 3 kilometer ke perempatan jalan yang menghubungkan transportasi ke kampung Sira, Manggroholo dan Kampung Sisir. Di perempatan inilah warga Kampung Kwowok dapat bernegosiasi dengan para sopir angkot. Jika negosiasi berhasil, mobil angkutan dapat masuk ke Kampung Kwowok untuk membawa hasil kebun warga dan hasil tokok sagu ke Pasar Ampera, Teminabuan.

Seperti yang dialami Simson Sagisolo dan istrinya Nelce Srekeflat. Pada Oktober 2020, penulis bertemu kedua suami istri ini di Kampung Kwowok, ketika hendak menjual sagu 3 sak ( seukuran karung beras  15 Kg) ke Pasar Teminabuan. Keduanya berjalan kaki sejauh 3 kilometer ke perempatan jalan, untuk mendapat angkutan umum, membawa sagu mereka ke Pasar Teminabuan.

Cara seperti ini kadang tidak mudah, karena untuk mendapat angkot di perempatan itu butuh waktu lebih dari satu jam.

“Sopir-sopir dong tidak mau masuk ke Kampung Kwowok, karena jalan masih rusak, kecuali kalau orang pake (carter),” kata Simson Sagisolo, warga Kampung Kwowok .

Biaya angkotnya Rp 30 ribu dari Kampung Sira ke Pasar Ampera Teminabuan. Kalau masuk ke Kampung Kwowok tambah Rp 10 ribu, jadi ongkos per orangnya Rp  40 ribu untuk sampai di Teminabuan.

Perjalanan dari Kampung Kwowok ke Pasar Ampera kurang lebih satu jam. Di Pasar Ampera Teminabuan, Mama Nelce memindahkan tiga karung sagunya di depan sebuah toko yang berseberangan dengan Kantor Pos.

Di sini Mama Nelce bergabung dengan mama-mama lain dari Distrik Saifi, Seremuk, Salkma dan Sawiat. Ada yang jualan sayur, ubi-ubian, pisang bahkan daun gatal.

Tanpa atap pelindung, tentu tak nyaman bagi mama Nelce dan mama-mama dari kampung lain yang menjajakan sagunya. Saat sengatan matahari membakar kulitnya, mama Nelce harus berlindung di grup mama-mama yang berjualan sayuran. Karena tempat jualannya memiliki atap.

Tak seperti jualan gorengan, para penjual sagu sepertinya harus panjang sabar menanti pembeli. Setelah 4 jam mama Nelce berdiri, duduk maupun berpindah-pindah tempat, akhirnya ada seorang pembeli yang membeli satu karung sagu yang dijual seharga Rp 200 ribu. Sudah jam 5 sore, satu karung sagu belum laku, apakah dibawah pulang atau dijual murah kepada para penadah sagu di Pasar Ampera?” Mama Nelce memilih untuk membawa sagunya ke penada sagu. Walaupun dijual murah Rp 100 ribu, itu pilihan yang biasanya diambil, karena tak ingin memikul sagu yang berat itu kembali ke kampung. Apalagi dengan kondisi jalan dan transportasi yang tidak menguntungkan.

Hasil jualan sagu itu sebagian dipakai untuk membeli gula, minyak goreng, garam dan beberapa kebutuhan pokok. Sedangkan sebagian lagi ditabung untuk membiayai sekolah anaknya yang berada di SMP dan SMA.  “Bukan hanya itu, bapa dengan mama juga biasa simpan uang untuk bantu orang dalam pembayaran harta,” kata bapa Simson.

Salah satu tokoh masyarakat Kampung Kwowok, Lewi Sagisolo mengatakan, perjalanan yang dilalui mama Nelce untuk menjual sagu ke pasar Teminabuan merupakan gambaran umum yang dihadapi semua warga Kampung Kwowok. Namun tak hanya sagu, semua hasil kebun juga sama, tidak memberi keuntungan. Kesannya seperti barter hasil kebun dengan uang transport dan sembako. Jadi tidak ada untung di sini.

Meski demikian, lanjut Lewi, tradisi untuk menanam sagu, menokok dan mengolah sagu menjadi papeda harus selalu hidup dalam kebudayaan mereka. Sagu bagi mereka adalah kehidupan, tanpa sagu tak ada kehidupan. Itulah ajaran yang diturunkan para leluhurnya, dan ajaran itu akan diteruskan juga kepada anak-anak mereka.

“Biar anak-anak pergi sekolah ke luar, kami orang tua selalu ingatkan, jangan lupa sagu. Orang tebang sagu untuk jual atau makan papeda, jangan lupa untuk tanam lagi. Supaya sagu itu tetap ada, dan orang Papua juga bisa tetap hidup,” tandasnya.

Tokoh Masyarakat lainnya, Yance Kemesfle berharap pengetahuan lokal dapat diajarkan kepada anak-anak generasi sekarang. Bukan saja tentang cara tebang, tokok dan ramas sagu, namun banyak pengetahuan lokal lainnya yang harus mereka tahu, seperti cara tangkap ikan dan udang di sungai, cara menanam di kebun, dan sebagainya.  “Kalau tidak diajarkan sekarang, selesai sudah, semuanya akan hilang,” ucap Yance.*)

Penulis : Abe Yomo