Rumah Kaki Seribu kian tergerus zaman

Salah satu rumah kaki seribu di Anggi, Kabupaten Arfak.(foto : Abe Yomo)

Rumah tradisional kaki seribu adalah rumah tradisional Suku Arfak (Hatam, Meyakh, Sougb, dan Moile) dengan konstruksi kayu dalam jumlah yang sangat banyak hingga disebut dengan kata “seribu”.  Ibeiya merupakan rumah tradisional kaki seribu Suku Moile yang hidup di daerah dataran tinggi Pegunungan Arfak, Distrik Minyambouw. Sedangkan penyebutan rumah kaki seribu oleh Suku Hatam yang hidup di daerah dataran rendah yaitu Iymama dan untuk Suku Sougb yang mendiami dataran tinggi daerah Anggi disebut tu Misen.

Adapun jenis rumah tradisional ibeiya pun mengalami perkembangan secara trial and error (intuisi) yang berkembang secara tanggap pada lingkungan, budaya dan sejarah. Dalam pembangunannya, ibeiya tidak terikat pada ukuran dan dimensi tertentu ataupun dogma yang biasa terdapat di dalam langgam arsitektur tradisional. Hal inilah yang menyebabkan rumah tradisional ibeiya cocok masuk dalam langgam arsitektur vernakular.

Seiring berkembangnya zaman dan arus globalisasi, budaya lokal rumah kaki seribu asal Pegunungan Arfak sudah mulai tergeser eksistensinya. Pergeseran budaya ini tidak hanya terjadi di daerah dataran rendah tapi sama juga di daerah dataran tinggi Anggi.

Fakta terhadap dinamika adat dan budaya masyarakat Anggi, masyarakat pribumi terutama generasi muda lebih memilih untuk tinggal di rumah tinggal jenis lain yaitu rumah jenis rumah tembok dengan dinding plesteran batu bata. Akibatnya, Ibeiya hanya didiami oleh generasi tua. Dengan demikian, lama kelamaan rumah tradisional ibeiya tidak dibangun lagi dan hilang seiring berkembangnya generasi dan zaman.(ist)